Pertamina melalui Program Desa Energi Berdikari menyatakan pencapaian membangun kemandirian energi serta juga perekonomian penduduk pada 63 desa berbasis energi bersih lalu terbarukan dengan memanfaatkan energi surya, air, angin serta biogas. Hasilnya, Desa Energi Berdikari Pertamina berhasil mengurangi emisi karbon hingga 565.978 ton per tahun.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso mengatakan, Pertamina terus berkomitmen mempercepat penyelenggaraan energi terbarukan dalam seluruh Indonesia sebagai dukungan terhadap target pemerintah mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060, salah satunya melalui Program Desa Energi Terbarukan.
“Desa Energi Berdikari merupakan aksi nyata TJSL Pertamina dalam mempercepat transisi energi bagi masyarakat. Program ini banyak mendapat apresiasi dunia sebab bukan hanya saja sekali mengurangi emisi, tetapi sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa,” ujar Fadjar.
Hingga akhir 2023, Pertamina menargetkan 66 Desa Energi Berdikari dalam Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, serta Papua. Terbaru, Pertamina membangun Desa Energi Berdikari dalam lima lokasi, yakni Desa Sruni pada area Jawa Tengah, Dusun Cindakko pada tempat Sulawesi Selatan, Desa Prangkat Baru, Desa Saliki di dalam tempat Kalimantan Timur, serta Desa Bunyu Timur pada dalam Kalimantan Utara.
Di kelima desa itu, Pertamina juga membangun instalasi energi bersih berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kemudian Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBio) yang digunakan mana menghasilkan total energi 31.070 watt peak (WP).
Fadjar mengungkapkan, instalasi energi bersih yang dimaksud hal tersebut bertujuan meningkatkan kegiatan ekonomi warga diimplementasikan berdasarkan kebutuhan masing-masing desa. Misalnya, penduduk pada area Dusun Cindakko, Sulawesi Selatan yang digunakan berada di area dalam ketinggian 600-800 MDPL juga belum miliki sumber daya listrik maupun akses mobilisasi gas, menggunakan energi terbarukan guna memproduksi produk-produk UMKM dari hasil hutan.
Sementara dalam Desa Bunyu Timur pada Kalimantan Utara, lalu Desa Prangkat Baru di tempat dalam Kalimantan Timur, energi bersih digunakan untuk mengupayakan aktivitas pertanian kemudian peternakan. Sedangkan dalam Desa Saliki, Kalimantan Timur, energi terbarukan dibutuhkan untuk akses air warga, pada dalam mana akses Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat tidaklah terjangkau.
Adapun warga Desa Sruni, Jawa Tengah, menggunakan sarana lalu prasarana pemanfaatan energi terbarukan untuk menyalurkan hasil biogas dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ke rumah-rumah penduduk.
Fadjar menyatakan, Program Desa Energi Berdikari yang dimaksud dimaksud dijalankan sejak 2019 telah dilakukan dijalani menghasilkan manfaat dalam bentuk 210.950 wp energi PLTS, 605.000 m3/tahun energi biogas kemudian juga gas metana, 8 ribu watt energi microhydro, 6.500 liter energi biodiesel per tahun, serta 16.500 wp energi hibrida.
Selain itu, Desa Energi Berdikari juga berperan dalam pemenuhan kebutuhan energi rakyat kemudian memberikan dampak perekonomian bagi 3.201 kepala keluarga dengan total manfaat mencapai Rp1,8 miliar per tahun.
“Program Desa Energi Berdikari Pertamina sejalan dengan SDGs poin 7 (Energi Bersih kemudian Terjangkau), poin 8 (Pekerjaan Layak serta Pertumbuhan Ekonomi), juga Poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim),” kata Fadjar.